Selain itu, kerusakan juga terjadi pada ruas Keban I, Terusan, Simpang Kemang hingga Suban 9, Desa Macang Sakti, Kecamatan Sanga Desa. Kawasan tersebut dinilai menjadi contoh nyata bagaimana keterbatasan anggaran dapat berdampak langsung terhadap aktivitas dan kehidupan masyarakat.
Warga di wilayah itu disebut telah bertahun-tahun menghadapi kondisi jalan rusak, berlubang, berlumpur saat musim hujan, serta sulit dilalui kendaraan pengangkut hasil perkebunan maupun aktivitas harian masyarakat.
“Sudah hampir enam tahun masyarakat menghadapi kondisi jalan yang memprihatinkan. Sampai hari ini, pembangunan yang benar-benar layak masih sangat dinantikan warga,” kata Rd.
Ia menambahkan, kerusakan infrastruktur tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga berdampak terhadap roda perekonomian desa, akses pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga meningkatnya biaya transportasi masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, aspirasi masyarakat terkait percepatan pembangunan infrastruktur terus meningkat. Namun, sebagian warga menilai penanganan yang dilakukan hingga kini belum sepenuhnya menjawab kebutuhan di lapangan.
“Masyarakat sedang menghadapi situasi yang tidak mudah.
Infrastruktur rusak bukan hanya persoalan kenyamanan, tetapi juga menyangkut ekonomi rakyat dan pelayanan dasar,” ujarnya.
Rd berharap pemerintah pusat dapat melakukan evaluasi terhadap kebijakan efisiensi anggaran agar pembangunan daerah tidak semakin tertinggal. Pemerintah juga diharapkan tetap memberikan dukungan fiskal yang memadai bagi daerah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan menjaga kualitas pelayanan publik.
Bagi masyarakat di pelosok Musi Banyuasin, pembangunan jalan dinilai bukan sekadar proyek pembangunan semata, melainkan harapan yang telah lama dinantikan demi menunjang aktivitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Reporter : Maryati



















