Janji Tinggal Janji, Puluhan Siswa SD di Taraju Dipaksa Belajar di Rumah Panggung Lapuk yang Bocor

banner 468x60

Tasikmalaya, Tintamerahnews.com – Di tengah gencarnya berbagai program pembangunan pendidikan, ironi justru masih nyata di pelosok Kabupaten Tasikmalaya. Selama hampir satu dekade, puluhan siswa kelas jauh SDN Kubangsari di Kampung Manglid, Dusun Mekarjaya, Desa Kertaraharja, Kecamatan Taraju, dipaksa belajar di bangunan bekas rumah panggung yang sempit, lapuk, dan bocor setiap kali hujan turun.

Temuan di lapangan menunjukkan kondisi bangunan yang jauh dari standar ruang belajar. Ukurannya hanya sekitar 5 x 4 meter, berdinding bilik bambu, berlantai papan kayu yang mulai rapuh, serta beratapkan material tua yang tidak lagi mampu menahan air hujan.

banner 336x280

Ironisnya, ruangan sempit tersebut harus menampung 25 siswa, terdiri dari 9 siswa kelas 1 dan 16 siswa kelas 2 secara bersamaan tanpa sekat pemisah. Ketika hujan turun, proses belajar tidak hanya terganggu, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan para siswa akibat kebocoran dan kondisi bangunan yang semakin renta.

“Kondisinya memang sangat memprihatinkan dan jauh dari kata layak. Kalau hujan bocor, anak-anak belajar berdesakan tanpa sekat. Saya sangat berharap tempat ini bisa segera dibangunkan dua ruang kelas baru yang permanen,” ujar Epi, guru kelas jauh yang telah mengabdi selama tiga tahun dengan status tenaga Sukwan.

Dibangun Karena Negara Tak Mampu Menjangkau

Penelusuran menunjukkan, keberadaan kelas jauh ini bukan sekadar pelengkap fasilitas pendidikan, melainkan lahir karena sulitnya akses masyarakat terhadap sekolah formal.

Sekitar sepuluh tahun lalu, anak-anak di wilayah Kampung Sadot dan sekitarnya harus berjalan kaki sekitar 3 kilometer melewati perbukitan, persawahan, lembah, hingga menyeberangi sungai untuk mencapai sekolah induk. Medan yang berat membuat banyak orang tua memilih tidak menyekolahkan anaknya sehingga angka buta huruf di wilayah tersebut cukup tinggi.

Sebagai solusi darurat, pemerintah desa bersama masyarakat bergotong royong menyediakan lahan dan membangun kelas jauh sekitar tahun 2017. Karena keterbatasan anggaran, bangunan dibuat dari rumah panggung bekas milik warga yang dibongkar lalu dirakit kembali menjadi ruang belajar.

“Dulu tempat ini dibangun sekitar tahun 2017 dengan segala keterbatasan. Anggaran tanahnya dari kas desa dan rereongan warga. Karena dana terbatas, kami membeli rumah panggung bekas warga yang tidak ditempati, lalu materialnya dirakit kembali menjadi bangunan kelas ini,” ungkap Kepala Desa Kertaraharja, Agus.

Janji Pembangunan Tak Pernah Terwujud

Yang menjadi sorotan, harapan masyarakat sebenarnya pernah muncul ketika Bupati Tasikmalaya saat itu, Uu Ruzhanul Ulum, menyampaikan komitmen akan membangun gedung permanen apabila pemerintah desa menyediakan lahan.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *