Pembinaan di Lapas Warungkiara tidak hanya soal keterampilan kerja. Aspek kepribadian juga mendapat perhatian besar. Warga binaan dibimbing melalui kegiatan keagamaan seperti belajar mengaji dan program nyantri. Mereka juga diberi kesempatan menempuh pendidikan nonformal.
Untuk menjaga kesehatan fisik, tersedia kegiatan olahraga seperti bola voli, sepak bola, dan bulu tangkis. Bagi yang memiliki minat seni, tersedia kelompok kegiatan musik. Selain itu, mereka juga dibekali pemahaman hukum, wawasan kebangsaan, serta nilai-nilai tanggung jawab sosial melalui program Kadarkum dan peringatan hari besar nasional.
Aktivitas warga binaan berjalan mengikuti aturan waktu yang konsisten. Sekitar pukul 06.30 WIB, hari dimulai dengan pembangunan, apel, serta pengecekan jumlah penghuni di setiap kamar. Setelah sarapan, kegiatan pembinaan dimulai pukul 08.00 WIB dan berlangsung hingga sore hari. Sekitar pukul 16.00 WIB, mereka kembali ke kamar masing-masing. Olahraga bersama dilaksanakan secara rutin setiap hari Sabtu. Rutinitas ini membangun kedisiplinan sekaligus memberi ruang agar setiap program pembinaan dapat terlaksana dengan teratur.
Beragam program positif yang berjalan, Lapas Warungkiara menghadapi tantangan besar berupa tingginya jumlah penghuni. Kapasitas yang seharusnya hanya untuk 618 orang, kini dihuni oleh 1.359 warga binaan — atau kelebihan 741 orang. Rinciannya, 1.333 orang adalah laki-laki dan 26 orang perempuan, termasuk satu warga negara asal Malaysia.
Kepadatan ini terlihat jelas di ruang hunian: kamar yang semestinya untuk sekitar 29 orang kini ditempati hingga 80 orang, dan yang berkapasitas 12 orang diisi sekitar 30 orang. Dengan jumlah pegawai sebanyak 84 orang, pengelolaan harus dilakukan secara cermat agar keamanan, ketertiban, dan kualitas pembinaan tetap terjaga dengan baik meskipun ruang terbatas.
Reporter : Rin/Yudi



















