CIAMIS,Tintamerahnews.com – Jika ruang redaksi biasanya riuh oleh dering telepon dan ketikan keyboard, hari ini, Rabu 4 November 2026, suasana itu pindah ke sebuah ruangan sederhana di Imbanagara, Kabupaten Ciamis. Tidak ada sirine, tidak ada TKP. Yang ada hanya lingkaran kursi, kopi hitam, dan semangat yang sama: bagaimana menjadi jurnalis yang benar.
Media Jejak Kriminal menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) yang tidak biasa. Agendanya tertulis singkat , Diskusi Syarat Makna . Namun maknanya dalam.
Rakor ini bukan sekadar kumpul absen. Ini adalah forum evaluasi total, tempat visi dan misi Jejak Kriminal kembali dibedah dari akar.
Di tengah lingkaran itu, berdiri Yanto Arif, Pimpinan Umum Jejak Kriminal, Sosok yang dikenal lugas dan apa adanya di kalangan anggotanya. Wejangannya hari ini bukan soal traffic atau viral.
“Kita ini kerja di wilayah sensitif, kriminal, hukum. Satu kata salah, nasib orang bisa berubah. Karena itu saya minta, lebih kreatif lah. Kreatif itu bukan bikin sensasi. Kreatif itu bagaimana caranya fakta yang keras bisa disajikan dengan hangat, bisa dicerna masyarakat, tanpa harus dibumbui kebencian,” ucap Yanto Arif dengan nada tenang tapi menancap.
Ia mengingatkan, musuh utama media bukanlah kompetitor, melainkan kebencian dan ketidakakuratan. Berita yang lahir dari kebencian, kata dia, hanya akan melahirkan kebencian baru.
“Jejak Kriminal harus jadi jejak yang terang. Faktual, hangat, tapi tetap punya makna. Jangan sampai kita menulis hanya untuk memuaskan amarah netizen,” lanjutnya.
Diskusi pun mengalir. Tidak kaku seperti rapat formal. Anggota aktif dari berbagai wilayah Ciamis dan sekitarnya berbaur, saling lempar pengalaman lapangan. Ada yang bercerita sulitnya konfirmasi di tengah malam, ada yang berbagi tips menulis berita hukum agar tidak menjatuhkan vonis sebelum pengadilan. Semua didengar.


















