Sukabumi, Tintamerahnews.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi melahirkan dua inovasi berbasis akar rumput yang dinamakan “siPASTI” dan “Gadis Sukabumi” Hal tersebut diperuntukkan dalam penanganan stunting di daerah yang acap kali tersandung persoalan klasik, “akurasi data”. Laporan yang sekadar rapi di atas kertas, tetapi jauh dari kondisi nyata di lapangan, tidak hanya membuat program bantuan gizi salah sasaran, tetapi juga membuai pemerintah dengan ilusi keberhasilan, dikutip dari detik.com,30/6/2026.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi, mengungkapkan.Dinkes kabupaten Sukabumi merancang siPASTI, singkatan dari Sistem Informasi Posyandu yang Terintegrasi. untuk mendapatkan data yang benar-benar akurat, proses pendataan tidak bisa lagi mengandalkan cakupan wilayah yang terlalu luas seperti tingkat desa.
“Kalau di tingkat desa itu, mulainya terlalu banyak. Namun, kalau kita benahi di tingkat posyandu, wilayah kerjanya relatif hanya tiga RT atau satu RW. Di situ kita bisa mendata dengan akurat,” ujar Masykur.
Melalui sistem ini, Masykur memegang teguh prinsip no one left behind atau tidak boleh ada satu pun sasaran yang terlewat.Data yang di-input oleh kader posyandu melalui aplikasi akan secara real-time terhubung ke sistem desa, puskesmas, hingga kabupaten.
“Jadi, saya tidak ingin data-data itu asal-asalan. Nantinya, ketika butuh data stunting per desa, saya tidak perlu lagi meminta ke puskesmas, melainkan tinggal membuka aplikasi karena semuanya sudah terintegrasi,”
Merintis karier dari level puskesmas pembantu.Masykur, menyoroti fenomena keliru di lapangan, di mana angka laporan stunting yang rendah kerap dirayakan sebagai sebuah keberhasilan. Padahal, angka rendah tersebut sangat mungkin terjadi karena malasnya upaya pencarian kasus (case finding).













