Hasil hisab tersebut juga dikonfirmasi oleh laporan untuk penelitian di 96 titik pengamatan. Tidak ada satu pun laporan hilal yang terlihat dari seluruh lokasi pemantauan. Bahkan, menurut Menag, di sejumlah negara Islam lainnya juga belum ada yang memenuhi kriteria imkan rukyat.
“Berdasarkan hasil hisab dan tidak adanya laporan rukyat hilal, Sidang Isbat menyepakati bahwa 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026,” tegasnya.
Menag berharap keputusan ini memungkinkan umat Islam di Indonesia memulai ibadah puasa secara bersama-sama. Ia juga mengimbau agar perbedaan pandangan dalam penetapan awal Ramadhan tidak menimbulkan perpecahan.
Turut hadir dalam Sidang Isbat tersebut antara lain Wakil Menteri Agama Romo Syafi’i, Ketua Komisi VIII DPR Marwan Dasopang, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Anwar Iskandar, serta Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad.
Sidang juga menghadirkan pimpinan ormas Islam, ahli falak dan astronomi, serta perwakilan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Informasi Geospasial, Planetarium Jakarta, dan anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama.
Sumber : Biro Humas dan Komunikasi Publik ( Kemenag )

















