“Itu khusus aula pertemuan, ruang pertemuan. Hanya mungkin terdampak apabila ada kegiatan-kegiatan yang memang dilaksanakan di aula,”
Sebelum atap benar-benar ambruk, pihak kelurahan mengaku sudah berkirim surat ke Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Sukabumi dengan tembusan ke Bappeda dan DPRD.
“Sebetulnya kemarin sebelum kejadian ini kita sudah bersurat melalui PUTR, tembusan ke Bappeda, bahkan melalui dewan juga sudah. Pas begitu keliatan ambrol plafonnya itu kita langsung bersurat. Intinya kemarin tuh dari pihak PUTR juga sudah sempat datang ke sini untuk melihat kondisinya. Hanya mungkin kita juga kalau secara teknis mau dibangun kapan atau begitu paham lah kalau masalah bangunan itu,” paparnya.
Dedi pun berharap perbaikan aula dapat segera direalisasikan agar pelayanan publik dan kegiatan masyarakat bisa kembali berjalan normal.
Di sisi lain, petugas BPBD Kota Sukabumi telah dikerahkan ke lokasi untuk penanganan awal. Kerusakan mencakup area seluas kurang lebih 16×15 meter persegi dengan estimasi kerugian mencapai lebih dari Rp 50 juta.
“Kalau harapan tentunya ya memang sangat-sangat berharap sekali untuk secepatnya, Pak. Karena memang untuk kelurahan Limusnunggal yang memang kondisi saat ini jumlah RW ada 13, kemudian RT 44 yang sifat kegiatannya sedikit banyak. Kami sangat membutuhkan sekali untuk aula pertemuan,” pungkasnya.
Reporter : Rin/ Abeng



















