• General Discussion Committee (CDG): Menggelar pembahasan mengenai kemajuan transformatif untuk kesetaraan gender di dunia kerja agar tidak ada lagi diskriminasi.
Semua rapat penting ini tersebar di titik-titik vital kota Jenewa, mulai dari markas besar ILO (Bureau International du Travail – BIT) hingga Geneva International Conference Centre (CICG).
Sangat disayangkan, ketika seorang putra daerah asal Palabuhanratu berkiprah di kancah internasional demi memperjuangkan hak, kepentingan, dan kesejahteraan pekerja/buruh dunia, yang dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat bawah di daerah, respons dari pemerintah lokal justru memprihatinkan.
Padahal, misi yang dibawa Abah Ujang Guru dari Jenewa ini sangat mahal harganya bagi masa depan Kabupaten Sukabumi. Sukabumi yang kaya akan potensi maritim dan industri sangat membutuhkan sinkronisasi aturan hukum ketenagakerjaan internasional agar warganya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, upah yang adil, dan kesejahteraan yang merata.
Meskipun harus menelan pil pahit karena kurangnya perhatian dari pemerintah daerahnya, semangat Abah Ujang Guru tidak surut sedikit pun. Baginya, kepentingan kaum buruh dan masyarakat Kabupaten Sukabumi jauh lebih penting daripada sekadar seremoni penghargaan.
Konferensi ILC ke-114 ini sendiri dijadwalkan berlangsung dari tanggal 1 hingga 14 Juni 2026. Masih ada waktu panjang bagi delegasi Indonesia untuk terus menyuarakan hak-hak pekerja.
“Melalui forum ILC ke-114 ini, kita dapat mengikuti secara langsung bagaimana arah kebijakan ketenagakerjaan dunia bergerak, terutama terkait pekerjaan layak, dialog sosial, kebebasan berserikat, dan kesetaraan gender. Hasil-hasil pembahasan dari Jenewa ini dipastikan akan menjadi referensi emas dan senjata utama kita dalam memperkuat perlindungan hukum serta mendongkrak kesejahteraan pekerja di Indonesia,”pungkasnya.
Kini, publik dan masyarakat Sukabumi menanti, akankah setelah kepulangan Abah Ujang Guru dari Swiss membawa hasil gemilang, Pemda Kabupaten Sukabumi dan Pemprov Jabar akhirnya membuka mata dan memberikan apresiasi yang layak bagi sang pahlawan diplomasi buruh ini.Ataukah prestasi internasional ini akan kembali menguap begitu saja di bawah meja birokrasi daerah.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada bentuk apresiasi resmi, dukungan moral, maupun perhatian nyata dari Pemda Kabupaten Sukabumi maupun Pemprov Jawa Barat. Fenomena ini memicu kritik tajam. Bagaimana mungkin seorang tokoh lokal yang berhasil membawa nama harum daerah di tingkat PBB terkesan dibiarkan berjuang sendiri tanpa dukungan dari rumahnya sendiri.
Reporter ; Rinto Wahyudi
















